Thursday, August 13

Cantiknya Kebun Raya Bogor

Jalan-jalan pagi dan hunting motret di Kebun Raya Bogor memang nggak pernah membosankan. Udara pagi yang masih fresh dan rindang nya pepohonan bikin jalan pagi nya tambah semangat. Apalagi kalau kesini di hari-hari biasa, mobil boleh masuk ke dalam area Kebun Raya dan pengunjung nggak sepadat kalau hari libur Sabtu-Minggu.

Banyak spot sebenernya yang bisa di jadiin objek motret disini, tinggal mengambil keuntungan dari lighting alam, alias cahaya matahari aja. Paling pas kalau kesini di musim panas seperti sekarang, di setiap sudut bermandikan cahaya matahari.

View istana kepresidenan

Bersih dan rapi area ini

Adem dan asri jalan di sepanjang pepohonan ini

Selalu terjaga kebersihan nya, gak ada satupun sampah berserakan

Yang paling menarik buatku di kompleks Kebun Raya Bogor ini adalah Taman Anggrek di area belakang Kebun Raya. Koleksi anggrek nya banyak dan cantik-cantik. Kalau kesini sebisa mungkin saat pagi setelah waktu penyiraman. Masih dapat bulir-buliran air dan matahari nya belum terlalu menyengat. Karena semakin siang disini, semakin lembab dan gerah.

Banyak yang aku nggak tau nama-nama dari setiap spesies anggrek disini. Tapi koleksi nya kulihat umum, alias banyak dijumpai di perkebunan dan tempat-tempat penjualan anggrek.










Koleksi anggrek di Taman Anggrek Kebun Raya Bogor


Saat aku memasuki Taman Anggrek ini, ada beberapa turis bule yang lagi motret juga. Beberapa opa-oma dan sisanya justru anak-anak kuliahan yang lagi meneliti spesies anggrek. Cara belajar mereka, sambil buka buku panduan, menulis beberapa catatan penting, bawa penggaris sambil mengukur panjang dan ukuran kuntum nya, ambil sample tanah dan di dokumentasikan dengan foto. Sebegitu detail nya. Mungkin anak-anak kuliahan di IPB juga melakukan hal yang sama yaaa,..

Sayangnya, si anggrek tanduk rusa ini belum keliatan bunganya.

Gerbang masuk Taman Anggrek


Kumbang di pot Lotus
Semakin siang disini semakin menyengat matahari nya dan semakin gerah. Kali ini pengen nyoba ke Kafe Dedaunan, yang lokasi nya persis di depan kolam teratai raksasa. Sekedar ngemil rasanya cukup lah..

Kafe Dedaunan
Area makan disini luas, dan ada pilihan indoor ataupun outdoor. Nggak usah takut akan kepanasan kalau pilih di area outdoor, karena banyak pohon-pohon rindang dan dibikin gazebo buat menghadang panas matahari.

Banyak reservasi dari instansi-instansi yang lagi makan disini, beberapa yang kudengar malahan arisan dan reunian nostalgia disini.

Tadinya pilihan ku jatuh ke cemilan ala-ala Belanda kaya poffertjes dan panekuk. Tapi ngeliat meja sebelah pesen makan ala Indonesia kok jadinya latah ikutan pesan juga.

Tongseng Kambing enak lhoo.. Dagingnya empuk

Dragon Juice, yang isinya dragon fruit merah, mangga dan orange. ini segerr banget
Perut kenyang, matahari makin tinggi dan rasanya udah waktu nya meninggalkan Kebun Raya Bogor. Selalu exciting motret kesini, next time hunting lagi menemukan spot baru. Sebener nya masih penasaran buat motret pohon-pohon rindang yang umur nya sudah puluhan bahkan ratusan tahun. Tapi kalo sendiri kaya sekarang, agak-agak serem dan ngeri juga. Takut ngeliat pemandangan dan penampakan lain. Hehehe...

See you soon, Kebun Raya Bogor!

xoxo - @jalan_kemana

Sunday, May 31

Berkunjung ke Candi Borobudur dan Benteng Vredeburg

Sebenarnya ini liburan kita tahun lalu bareng anak-anak. Sengaja pilih waktu sebulan sebelum liburan kenaikan kelas, untuk mengantisipasi penuhnya pengunjung, biar anak-anak nyaman liburan nya.

Sampai di Yogya, destinasi pertama kita langsung menuju ke Candi Borobudur di Magelang. Saat musim kemarau, cuaca panas terik dan angin kering sangat menyengat ke kulit. Bermodalkan sunblock, kaca mata hitam dan topi, rasanya cukup lah untuk menjelajah Candi.




Sambil berkeliling kompleks Candi Borobudur, sesekali saya nge-dongeng bercerita tentang kisah Rama-Sinta, Mahabrata dan Dinasti Syailendra. Anak-anak antusias banget, apalagi pada saat di stupa dan memegang relief-relief yang seperti menceritakan suatu kisah.


Puas mengelilingi kompleks Candi Borobudur, kita mampir ke Fort Vredeburg Museum. Museum Benteng Vredeburg di jalan Margo Mulyo daerah Malioboro. Benteng yang terletak di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Yogyakarta. Di dalam bangunan benteng ini juga terdapat diorama tentang sejarah Indonesia.


Fort Vredeburg Museum

Salah satu diorama
Diorama di bangunan ini berkisah tentang Soekarno - Hatta, perjuangan Pangeran Diponegoro, era kongres Budi Utomo sampai sejarah berdirinya organisasi Muhammadiyah dan Taman Siswa.




Akhirnya anak-anakku tau sedikit tentang sejarah Indonesia, terutama abang. Walaupun belum mengerti tentang perjuangan Pangeran Diponegoro dan asal usul bagaimana Taman Siswa terbentuk.

Gedung diorama ini dibuat se-dramatis mungkin, dengan ilustrasi cerita yang ditulis singkat. Selain itu, di setiap sudut ruangan juga dipamerkan beberapa barang-barang peninggalan sejarah.

Sayang nya saat kita kesana, cafe dan kantin nya sedang di renovasi (atau tutup yaa??) Padahal penasaran dengan Indische Koffie yang menyuguhkan suasana ala kolonial Belanda dengan menu makanan tempoe doloe.

Monday, May 25

Berburu sunrise di Bromo

Jam 23.30 alarm sudah nyaring ngebangunin, kita langsung ganti baju siap-siap jalan ke Bromo, karena pasti setengah jam lagi travel akan datang buat jemput. Jam 00.00 jemputan sudah stand by di lobby, dengan avanza kita menuju satu posko Jeep di daerah Desa Tumpang. Pak Laman, sang pemilik 4 unit jeep yang jadi pemandu kita malam itu.

Dari Hotel Ollino Garden Malang menuju desa tumpang yang berjarak 15km, ditempuh dengan 25 menit aja. Setelah berganti Jeep, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Bromo. Melewati Gubukklakah, Ngadas dan desa Poncokusumo total 1.5 jam perjalanan dari Tumpang sampai di Posko Penanjakan.

Jam 03.00 dinihari kita sudah sampai di Pananjakan, sempet mampir dulu sebentar di warung kopi. Memesan teh panas dan kopi tubruk, sambil menyesuaikan suhu tubuh.

Bromo
Di Pananjakan, ternyata sudah penuh orang, padahal baru jam 03.20, untungnya masih dapet spot kosong persis di pagar dengan view gunung Batok.

Jam 03.20 saat penantian sunrise di Pananjakan
Udara dan angin dingin nya bener-bener menggigit sampai ke tulang. Berlapis-lapis baju dan jaket yang dipake rasanya masih kurang. Detik-detik sunrise ternyata banyak dimanfaatin orang-orang dengan foto menggunakan  ipad, tab dan tongsis. Hampir nggak terlihat kecuali tangan-tangan para pemotret.

Sunrise yang terhalang tongsis, ipad dan segala macam gadget lainnya
Setelah matahari muncul dan mulai menghangat, baru terlihat cantiknya Gunung Bromo - Gunung Semeru dan Gunung Batok nya. Momen ini yang nggak bisa diungkapkan. Cantik banget...

View gunung Bromo dan gunung Batok

Puas mengambil foto-foto dengan view gunung batok, kita dibawa Pak Laman untuk turun ke pasir berbisik, muter di padang savanna dan bukit teletubbies.

Pasir Berbisik
Untuk menghemat waktu, kita sepakat sewa kuda dari parkiran jeep sampai ke tangga kawah bromo. Entah kemahalan atau memang harga sewa nya segitu, Rp.125.000 untuk satu kuda dan kita sewa 5 kuda. Heheuu...(^_^)

Disini dinamakan pasir berbisik, karena ketika hembusan angin kencang menyapu lautan pasir, seperti bisikan-bisikan tipis yang kita dengar.






Padang Savanna dan Bukit Teletubbies
Di padang savanna dan bukit teletubbies, view nya cantik banget dengan warna bukit yang hijau kontras dengan rumput yang sebagian sudah menguning.

Bukit Teletubbies ini sebenernya adalah padang savanna yang dikelilingi oleh deretan perbukitan. Cuma karena kontur nya berbukit seperti di film Teletubbies, jadilah dinamakan Bukit Teletubbies.



Padahal baru jam 09.00an tapi matahari nya sudah menyengat, walaupun angin yang berhembus masih terasa dingin. Memang nggak ada puas nya disini, rasanya pengen berlama-lama.
Bromo memang memberikan paket keindahan yang luar biasa. Dari mulai "magical sunrise" nya, deretan gunung Bromo-Semeru-Batok, langit nya yang biru juga padang savanna dan bukit teletubbies yang ber-gradasi cantiknya.

Tapi perut sudah minta diisi tanda lapar melanda. Dan mengingat perjalanan balik lagi ke Malang yang kurang lebih 2 jam, mau gak mau harus pamitan sama si cantik Bromo..

Insya Allah kita balik lagi kesini, hanya untuk puas-puasin mandangin hijau dan biru nya langit mu.

"Indonesia itu Indah"


*semua photo kita berdua yang capture, menggunakan kamera Canon 600D dan kamera olympus EP5*

Vintage Cars di Museum Angkut

Museum Angkut Batu-Malang

Liburan kali ini sepakat ke Gunung Bromo dan Batu-Malang. Dari hari Jumat keberangkatan, si kecil Rooney sudah nggak enak badan, bolak-balik batuk dan agak anget badannya. Bermodalkan obat panas ibuprofen dan minyak tolak angin, Insya Allah perjalanan kali ini baik-baik aja. Pesawat Citilink jam 07.30 dari Halim direct menuju Malang. Satu jam 30 menit, sampai juga di Bandara Abdul Rahman Saleh, pagi itu kota Malang cerah, lumayan hangat matahari nya padahal baru jam 09.00 pagi. Travel yang menjemput sudah datang, ternyata 3 koper yang kita bawa nggak muat di bagasi, terpaksa harus drop ke Hotel dulu, biar nyaman jalan-jalan nya.

Setelah drop koper-koper ke Hotel, perjalanan dilanjutkan kembali. Langsung menuju ke Museum Angkut di Batu. Setengah jam perjalanan, kita harus mampir dulu makan siang sembari menunggu rombongan para lelaki ini sholat Jum’at. 

Kedai Assalamualaikum daerah Dinoyo, depan Univ. Muhammadiyah Malang
Kedai Assalamualaikum di seberang Universitas Muhammadiyah Malang, jadi pilihan. Rumah makan dua lantai, dengan menu aneka Soto, variasi kremesan seperti Ayam kremes, Jamur kremes, tahu dan tempe kremes, ada juga Gado-gado dan Sop-sop an. Harga di Kedai ini nggak bikin kantong bolong alias murah meriah enak. Kita makan ber-7 dengan supir, cukup ngeluarin uang Rp.94.000. Padahal makan kita lumayan gragas siang itu, karena lapar dan memang gorengan nya enak-enak semua.

Setelah menunggu yang sholat jumat selesai, berangkat lagi kita menuju Museum Angkut kota Batu.
Wrist band yang harus tetap dipakai
Angin sejuk dan hangat nya matahari bikin perjalanan ini semangat. Dengan membayar tiket Rp.80,000 per orang pluss Rp.30,000 untuk penggunaan kamera SLR. Kita mendapatkan satu wrist band yang dipakai ditangan sebagai pengenal tiket masuk. Wrist band ini harus terus terpasang selama kita berada di dalam area Museum Angkut.

Luar biasa museum ini, dengan ratusan bahkan ribuan koleksi semua sarana angkutan. Dari mulai sepeda onthel, motorbike, scooter, mobil vintage sampai kereta kencana ada disana. Museum yang di desain modern, dengan pendingin di seluruh ruangan dan fasilitas yang modern. Untuk anak-anak, tempat ini merupakan fun education, bisa belajar dari berbagai macam kendaraan dengan fungsi dan tahun pembuatannya.










Selesai dari area mobil-mobil vintage, kita dibawa ke tema berikutnya. The Gangster Town. Ternyata di sini dibagi ke beberapa area tematik. Ada kota ala New York, kota tua Jakarta dan Pelabuhan Sunda Kelapanya. Ada juga kota London, Paris, sampai Berlin.
Dan semua ornamen dibuat replika dan serba miniature.










Puas berkeliling setelah melewati palang EXIT, masih ada lagi area Pasar Terapung. Banyak kios-kios jajanan, stand oleh-oleh, toko pernak-pernik yang dijual disana. Harga nya pun masih tergolong harga "wajar". Untuk satu buah bakpao ayam atau bakpao kacang hijau yang dibandrol harga Rp.5.000 masih cukup terbilang murah. Di pasar terapung, nggak semua kita jelajah. Hari sudah makin sore, dan kita memutuskan untuk balik ke hotel di daerah Malang. Karena malamnya jam 00.00 dinihari kita sudah dijemput Jeep untuk naik ke Gunung Bromo.