Museum Angkut Batu-Malang
Liburan kali ini sepakat ke Gunung Bromo dan Batu-Malang. Dari hari Jumat keberangkatan, si kecil Rooney sudah nggak enak badan,
bolak-balik batuk dan agak anget badannya. Bermodalkan obat panas ibuprofen dan
minyak tolak angin, Insya Allah perjalanan kali ini baik-baik aja. Pesawat Citilink jam 07.30 dari Halim direct menuju Malang. Satu jam
30 menit, sampai juga di Bandara Abdul Rahman Saleh, pagi itu kota Malang
cerah, lumayan hangat matahari nya padahal baru jam 09.00 pagi. Travel yang
menjemput sudah datang, ternyata 3 koper yang kita bawa nggak muat di bagasi,
terpaksa harus drop ke Hotel dulu, biar nyaman jalan-jalan nya.
Setelah drop koper-koper ke Hotel, perjalanan dilanjutkan kembali.
Langsung menuju ke Museum Angkut di Batu. Setengah jam perjalanan, kita harus
mampir dulu makan siang sembari menunggu rombongan para lelaki ini sholat Jum’at.
| Kedai Assalamualaikum daerah Dinoyo, depan Univ. Muhammadiyah Malang |
Setelah menunggu yang sholat jumat selesai, berangkat lagi kita menuju
Museum Angkut kota Batu.
| Wrist band yang harus tetap dipakai |
Angin sejuk dan hangat nya matahari bikin perjalanan ini semangat. Dengan membayar tiket Rp.80,000 per orang pluss Rp.30,000 untuk penggunaan
kamera SLR. Kita mendapatkan satu wrist band yang dipakai ditangan sebagai
pengenal tiket masuk. Wrist band ini harus terus terpasang selama kita berada di dalam area Museum Angkut.
Luar biasa museum ini, dengan ratusan bahkan ribuan koleksi semua
sarana angkutan. Dari mulai sepeda onthel, motorbike, scooter, mobil vintage
sampai kereta kencana ada disana. Museum yang di desain modern, dengan
pendingin di seluruh ruangan dan fasilitas yang modern. Untuk anak-anak, tempat
ini merupakan fun education, bisa belajar dari berbagai macam kendaraan dengan
fungsi dan tahun pembuatannya.
Selesai dari area mobil-mobil vintage, kita dibawa ke tema berikutnya. The Gangster Town. Ternyata di sini dibagi ke beberapa area tematik. Ada kota ala New York, kota tua Jakarta dan Pelabuhan Sunda Kelapanya. Ada juga kota London, Paris, sampai Berlin.
Dan semua ornamen dibuat replika dan serba miniature.
Puas berkeliling setelah melewati palang EXIT, masih ada lagi area Pasar Terapung. Banyak kios-kios jajanan, stand oleh-oleh, toko pernak-pernik yang dijual disana. Harga nya pun masih tergolong harga "wajar". Untuk satu buah bakpao ayam atau bakpao kacang hijau yang dibandrol harga Rp.5.000 masih cukup terbilang murah. Di pasar terapung, nggak semua kita jelajah. Hari sudah makin sore, dan kita memutuskan untuk balik ke hotel di daerah Malang. Karena malamnya jam 00.00 dinihari kita sudah dijemput Jeep untuk naik ke Gunung Bromo.
No comments:
Post a Comment