Sunday, May 31

Berkunjung ke Candi Borobudur dan Benteng Vredeburg

Sebenarnya ini liburan kita tahun lalu bareng anak-anak. Sengaja pilih waktu sebulan sebelum liburan kenaikan kelas, untuk mengantisipasi penuhnya pengunjung, biar anak-anak nyaman liburan nya.

Sampai di Yogya, destinasi pertama kita langsung menuju ke Candi Borobudur di Magelang. Saat musim kemarau, cuaca panas terik dan angin kering sangat menyengat ke kulit. Bermodalkan sunblock, kaca mata hitam dan topi, rasanya cukup lah untuk menjelajah Candi.




Sambil berkeliling kompleks Candi Borobudur, sesekali saya nge-dongeng bercerita tentang kisah Rama-Sinta, Mahabrata dan Dinasti Syailendra. Anak-anak antusias banget, apalagi pada saat di stupa dan memegang relief-relief yang seperti menceritakan suatu kisah.


Puas mengelilingi kompleks Candi Borobudur, kita mampir ke Fort Vredeburg Museum. Museum Benteng Vredeburg di jalan Margo Mulyo daerah Malioboro. Benteng yang terletak di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Yogyakarta. Di dalam bangunan benteng ini juga terdapat diorama tentang sejarah Indonesia.


Fort Vredeburg Museum

Salah satu diorama
Diorama di bangunan ini berkisah tentang Soekarno - Hatta, perjuangan Pangeran Diponegoro, era kongres Budi Utomo sampai sejarah berdirinya organisasi Muhammadiyah dan Taman Siswa.




Akhirnya anak-anakku tau sedikit tentang sejarah Indonesia, terutama abang. Walaupun belum mengerti tentang perjuangan Pangeran Diponegoro dan asal usul bagaimana Taman Siswa terbentuk.

Gedung diorama ini dibuat se-dramatis mungkin, dengan ilustrasi cerita yang ditulis singkat. Selain itu, di setiap sudut ruangan juga dipamerkan beberapa barang-barang peninggalan sejarah.

Sayang nya saat kita kesana, cafe dan kantin nya sedang di renovasi (atau tutup yaa??) Padahal penasaran dengan Indische Koffie yang menyuguhkan suasana ala kolonial Belanda dengan menu makanan tempoe doloe.

Monday, May 25

Berburu sunrise di Bromo

Jam 23.30 alarm sudah nyaring ngebangunin, kita langsung ganti baju siap-siap jalan ke Bromo, karena pasti setengah jam lagi travel akan datang buat jemput. Jam 00.00 jemputan sudah stand by di lobby, dengan avanza kita menuju satu posko Jeep di daerah Desa Tumpang. Pak Laman, sang pemilik 4 unit jeep yang jadi pemandu kita malam itu.

Dari Hotel Ollino Garden Malang menuju desa tumpang yang berjarak 15km, ditempuh dengan 25 menit aja. Setelah berganti Jeep, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Bromo. Melewati Gubukklakah, Ngadas dan desa Poncokusumo total 1.5 jam perjalanan dari Tumpang sampai di Posko Penanjakan.

Jam 03.00 dinihari kita sudah sampai di Pananjakan, sempet mampir dulu sebentar di warung kopi. Memesan teh panas dan kopi tubruk, sambil menyesuaikan suhu tubuh.

Bromo
Di Pananjakan, ternyata sudah penuh orang, padahal baru jam 03.20, untungnya masih dapet spot kosong persis di pagar dengan view gunung Batok.

Jam 03.20 saat penantian sunrise di Pananjakan
Udara dan angin dingin nya bener-bener menggigit sampai ke tulang. Berlapis-lapis baju dan jaket yang dipake rasanya masih kurang. Detik-detik sunrise ternyata banyak dimanfaatin orang-orang dengan foto menggunakan  ipad, tab dan tongsis. Hampir nggak terlihat kecuali tangan-tangan para pemotret.

Sunrise yang terhalang tongsis, ipad dan segala macam gadget lainnya
Setelah matahari muncul dan mulai menghangat, baru terlihat cantiknya Gunung Bromo - Gunung Semeru dan Gunung Batok nya. Momen ini yang nggak bisa diungkapkan. Cantik banget...

View gunung Bromo dan gunung Batok

Puas mengambil foto-foto dengan view gunung batok, kita dibawa Pak Laman untuk turun ke pasir berbisik, muter di padang savanna dan bukit teletubbies.

Pasir Berbisik
Untuk menghemat waktu, kita sepakat sewa kuda dari parkiran jeep sampai ke tangga kawah bromo. Entah kemahalan atau memang harga sewa nya segitu, Rp.125.000 untuk satu kuda dan kita sewa 5 kuda. Heheuu...(^_^)

Disini dinamakan pasir berbisik, karena ketika hembusan angin kencang menyapu lautan pasir, seperti bisikan-bisikan tipis yang kita dengar.






Padang Savanna dan Bukit Teletubbies
Di padang savanna dan bukit teletubbies, view nya cantik banget dengan warna bukit yang hijau kontras dengan rumput yang sebagian sudah menguning.

Bukit Teletubbies ini sebenernya adalah padang savanna yang dikelilingi oleh deretan perbukitan. Cuma karena kontur nya berbukit seperti di film Teletubbies, jadilah dinamakan Bukit Teletubbies.



Padahal baru jam 09.00an tapi matahari nya sudah menyengat, walaupun angin yang berhembus masih terasa dingin. Memang nggak ada puas nya disini, rasanya pengen berlama-lama.
Bromo memang memberikan paket keindahan yang luar biasa. Dari mulai "magical sunrise" nya, deretan gunung Bromo-Semeru-Batok, langit nya yang biru juga padang savanna dan bukit teletubbies yang ber-gradasi cantiknya.

Tapi perut sudah minta diisi tanda lapar melanda. Dan mengingat perjalanan balik lagi ke Malang yang kurang lebih 2 jam, mau gak mau harus pamitan sama si cantik Bromo..

Insya Allah kita balik lagi kesini, hanya untuk puas-puasin mandangin hijau dan biru nya langit mu.

"Indonesia itu Indah"


*semua photo kita berdua yang capture, menggunakan kamera Canon 600D dan kamera olympus EP5*

Vintage Cars di Museum Angkut

Museum Angkut Batu-Malang

Liburan kali ini sepakat ke Gunung Bromo dan Batu-Malang. Dari hari Jumat keberangkatan, si kecil Rooney sudah nggak enak badan, bolak-balik batuk dan agak anget badannya. Bermodalkan obat panas ibuprofen dan minyak tolak angin, Insya Allah perjalanan kali ini baik-baik aja. Pesawat Citilink jam 07.30 dari Halim direct menuju Malang. Satu jam 30 menit, sampai juga di Bandara Abdul Rahman Saleh, pagi itu kota Malang cerah, lumayan hangat matahari nya padahal baru jam 09.00 pagi. Travel yang menjemput sudah datang, ternyata 3 koper yang kita bawa nggak muat di bagasi, terpaksa harus drop ke Hotel dulu, biar nyaman jalan-jalan nya.

Setelah drop koper-koper ke Hotel, perjalanan dilanjutkan kembali. Langsung menuju ke Museum Angkut di Batu. Setengah jam perjalanan, kita harus mampir dulu makan siang sembari menunggu rombongan para lelaki ini sholat Jum’at. 

Kedai Assalamualaikum daerah Dinoyo, depan Univ. Muhammadiyah Malang
Kedai Assalamualaikum di seberang Universitas Muhammadiyah Malang, jadi pilihan. Rumah makan dua lantai, dengan menu aneka Soto, variasi kremesan seperti Ayam kremes, Jamur kremes, tahu dan tempe kremes, ada juga Gado-gado dan Sop-sop an. Harga di Kedai ini nggak bikin kantong bolong alias murah meriah enak. Kita makan ber-7 dengan supir, cukup ngeluarin uang Rp.94.000. Padahal makan kita lumayan gragas siang itu, karena lapar dan memang gorengan nya enak-enak semua.

Setelah menunggu yang sholat jumat selesai, berangkat lagi kita menuju Museum Angkut kota Batu.
Wrist band yang harus tetap dipakai
Angin sejuk dan hangat nya matahari bikin perjalanan ini semangat. Dengan membayar tiket Rp.80,000 per orang pluss Rp.30,000 untuk penggunaan kamera SLR. Kita mendapatkan satu wrist band yang dipakai ditangan sebagai pengenal tiket masuk. Wrist band ini harus terus terpasang selama kita berada di dalam area Museum Angkut.

Luar biasa museum ini, dengan ratusan bahkan ribuan koleksi semua sarana angkutan. Dari mulai sepeda onthel, motorbike, scooter, mobil vintage sampai kereta kencana ada disana. Museum yang di desain modern, dengan pendingin di seluruh ruangan dan fasilitas yang modern. Untuk anak-anak, tempat ini merupakan fun education, bisa belajar dari berbagai macam kendaraan dengan fungsi dan tahun pembuatannya.










Selesai dari area mobil-mobil vintage, kita dibawa ke tema berikutnya. The Gangster Town. Ternyata di sini dibagi ke beberapa area tematik. Ada kota ala New York, kota tua Jakarta dan Pelabuhan Sunda Kelapanya. Ada juga kota London, Paris, sampai Berlin.
Dan semua ornamen dibuat replika dan serba miniature.










Puas berkeliling setelah melewati palang EXIT, masih ada lagi area Pasar Terapung. Banyak kios-kios jajanan, stand oleh-oleh, toko pernak-pernik yang dijual disana. Harga nya pun masih tergolong harga "wajar". Untuk satu buah bakpao ayam atau bakpao kacang hijau yang dibandrol harga Rp.5.000 masih cukup terbilang murah. Di pasar terapung, nggak semua kita jelajah. Hari sudah makin sore, dan kita memutuskan untuk balik ke hotel di daerah Malang. Karena malamnya jam 00.00 dinihari kita sudah dijemput Jeep untuk naik ke Gunung Bromo.


Short trip ke Banyuwangi - part 2

Taman Nasional Baluran - the African van Java


Setelah turun dari Ijen, perjalanan ke Baluran hanya menempuh jarak 2.5jam. Selama perjalanan, kita bedua cuma tidur aja di mobil. Bangun hanya untuk mampir sarapan Nasi Tempong, makanan khas Banyuwangi, bersih-bersih seadanya untuk cuci muka dan ganti baju. Karna baju yang kita pake bekas naik ke Ijen udah bau belerang dan kotor bekas duduk-duduk di tanah. 

Nasi Tempong, makanan khas Banyuwangi.
Nasi Tempong itu isinya nasi putih, ayam goreng kunyit, atau ayam bakar, tahu-tempe goreng, dengan perkedel jagung dan ikan asin. Lalapan dan sambal. Sambalnya dibuat seperti sambal plecing kangkung. Seger dengan irisan tomat.

Harga satu porsi nasi tempong dengan ayam goreng Rp.12.000. Dengan nasi yang pulen dan porsi besar. Alhamdulillah nikmat banget sarapan kita kali ini..


Kelar makan nasi tempong, perjalanan dilanjutkan lagi ke Taman Nasional Baluran. Setelah melewati daerah Banyuputih - Situbondo, masuk lah kita ke jalan bebatuan, dengan aspal tipis yang cukup untuk 2 mobil. Dari pintu utama kita menuju loket atau posko Baluran dan dengan modal retribusi Rp.7,500 (untuk domestik dan hari  libur) Pluss Rp.15.000 untuk kendaraan roda 4, kita masih harus menempuh jarak 14kiloan. Sepanjang jalan dari pintu masuk, yang terlihat cuma hutan jati dan jalanan yang rusak. Boleh dibilang 80% jalan rusak, 20% nya lagi aspal tipis. Satu jam dari pintu masuk ke Savanna Bekol. Buat yang tidak membawa kendaraan sendiri, ada penyewaan mobil di posko depan atau penyewaan motor.

Cuaca siang itu sangat terik, dengan angin kering nya, tapi begitu sampai di Savanna Bekol, pemandangan nya luar biasa indahnya. Langsung kebayang kalau kesini lagi di musim kemarau, pasti African van Java nya kerasa banget.







Luar biasa indahnya kota Banyuwangi ini. Savanna Bekol, gunung Baluran. seolah menjadi satu framing yang cantik sekali. view diambil dari menara pandang 
Background Gunung Baluran


Kerbau Jawa yang habis berendem lumpur
Di Savanna Bekol ini selain hamparan savanna yang menghijau, ada beberapa hewan yang berkeliaran. Kerbau jawa, rusa, monyet, ayam hutan, burung merak dan kabarnya ada macan juga, yang biasa turun gunung baluran pada malam hari untuk cari mangsa.
Sayangnya pada saat kita disana, hanya rusa dan kerbau jawa aja yang lagi berkeliaran. Mungkin kalau musim kemarau kesini, kita bisa liat pertarungan antara rusa atau ayam hutan yang lagi cari makan. Mudah-mudahan bisa kesini lagi yaa...

Di Savanna Bekol, ada menara pandang yang fungsi nya untuk para penjaga hutan yang akan mengawasi wilayah Taman Nasional Baluran, tapi pengunjung diperbolehkan naik sampai ke atas menara, untuk motret atau sekedar memandang hijaunya savanna.

Kelar naik ke menara pandang, kita memutuskan jalan lagi, masih di sekitaran Baluran. Ke Pantai Bama, yang jaraknya cuma 3 kilo dari Savanna Bekol. Pantai Bama merupakan ujung dari wilayah Baluran. Memasuki pantai Bama, kita disambut dengan beberapa monyet dan puluhan pohon kelapa yang rindang. Pantainya berpasir putih dan garis nya tidak begitu panjang, selebihnya dikelilingi oleh hutan mangrove. Kuperhatikan pantai bama ini tenang, hampir tidak terdengar deburan ombak.


Jembatan di hutan mangrove
Pantai Bama yang tenang

Setelah puas berkeliling hutan mangrove, nggak kerasa sudah jam 14.00 siang. Perut mulai berasa lapar lagi, waktunya buat cari makan siang. Ternyata makan siang kita sudah di provide sama mas riko. Jadi tinggal cari tempat mojok dan siap buka lunch box.

Alhamdulilllah makan siang nya enak dan ngenyangin. Saat nya kembali lagi ke Surabaya. Tadinya masih berniat menunggu sore, supaya bisa ngeliat cantik nya lampu-lampu di Paiton. Tapi takut semakin malam sampai di Surabaya, makanya kita mutusin langsung balik aja toh perjalanan bisa memakan waktu 6-7 jam lagi.

Selama di mobil, kita bedua lagi-lagi tidur, melek cuma buat ngemil kacang-kacangan, sambil sesekali ngeliat pantai pasir putih di Situbondo.
Memasuki kota Surabaya jam 10.00 dan masih harus nyari Hotel Midtwon Express di jalan Kusuma Bangsa. Setelah nyasar 2 kali di jalan toll, dan muter-muter mengandalkan waze, akhirnya nyampe dan check in hotel juga..
Alhamdulillah trip kali ini menyenangkan, walaupun capek dan pegel-pegel. Bersyukur, masih dikasih kesempatan buat ngeliat keindahan alam negeri sendiri.

Mudah-mudahan ada rezeki lagi buat datang saat musim kemarau yaa...