Trekking Blue Fire - Kawah Ijen
Sebenernya trip ke Banyuwangi bukan salah satu tujuan jalan-jalan kita tahun ini. Tempat wisata seperti Taman Nasional Baluran, Teluk Ijo ataupun Pantai Merah juga baru terdengar setahun belakangan. Meskipun Kawah Ijen sudah lebih dulu "ngetop" ketimbang tempat wisata lainnya. Tadinya first trip kita bedua tahun ini mau ke Bromo-Malang dan sekitarnya. Tapi akhirnya malah memutuskan ke Kawah Ijen karena faktor penasaran akan Blue Fire nya. Jadilah issued tiket, hotel dan hunting jasa travel.
Jumat, 20 Maret dengan Citilink jam 06.10 lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta menuju Surabaya. On time, penerbangan mulus dan sampai di Bandara Juanda jam 07.30. Setelah selesai urusan bagasi akhirnya kita memutuskan untuk ngopi dulu di Terminal 1 Juanda, secangkir kopi tarik panas dan roti bakar srikaya di Bangi Kopitiam kita pesan pagi itu. Nggak lama, travel kita datang. Dijemput dengan mobil Xenia pluss mas Ipul dan mas Riko yang jadi supir dan pemandu kita selama perjalanan Surabaya - Banyuwangi. Tepat jam 08.30 kita berangkat dari bandara Juanda.
Sempat mampir di Lumpur Lapindo untuk liat lautan pasir dan lumpur yang sudah menenggelamkan 6500 hektar tanah. Sepanjang mata memandang hanya lautan pasir dan kepulan asap yang masih aktif. Sudah 9 tahun dan sampai sekarang nggak ada kejelasan dan nggak ada kepastian nasib para korban lumpur Lapindo. Tragis..
| Loket Lumpur Lapindo, retribusi 10ribu per orang dan 5ribu untuk parkir mobil. |
| Sepanjang mata memandang hanya lautan lumpur dan pasir. |
Perjalanan melewati Sidoarjo - Pasuruan - Probolinggo - Kraksaan - Bondowoso - Banyuwangi. Menyusuri teriknya pantai utara dan sempat ternganga-nganga melewati PLTU Paiton. Ternyata ada yaa pembangkit listrik tenaga uap yang dikelola oleh pihak swasta dengan segala fasilitas lengkap dan keamanan tingkat tingginya. Langsung ngebayangin pasti bakalan cantik banget kalo malam lewat sini, dengan terang nya lampu-lampu dari PLTU Paiton.
Jam 17.15 memasuki kawasan Ijen. Setelah tanya sana-sini, akhirnya sampai di homestay Arabica di daerah Bondowoso Ijen. Baru ngeh pada saat ngomong, mulai keluar asap tipis dari mulut, pertanda udara dingin dan ternyata kabut juga mulai turun..
Jam 18.30 kita ngumpul di ruang makan homestay, dengan harga reservasi kamar superior Rp.190.000 dapet komplimen makan malam untuk 2 orang. Menu sop ayam, ayam goreng kremes, telor orak arik, mie goreng dan juice strawberry rasanya mewah banget. Dan semua makanan tandes ludess, kitanya memang kelaperan atau karena cuaca dingin yang mendukung. Sekalian isi perut buat bekal naik Ijen jam 12.00 malam.| Kamar superior dengan fasilitas water heater |
| Superior room-queen size bed |
Beginilah kondisi kamar kita, kamar yang lembab, dengan tempat tidur kayu, sprei putih yang sudah nggak putih lagi warnanya, bantal yang menurutku harus diganti sarung bantalnya karena apek, handuk juga sama..
Tapi Alhamdulillah kamarnya bersih, lantainya nggak ngeres, ada air panas yang terpenting. Dan lampu-lampu nya semua nyala. Buatku sudah cukup, toh hanya "transit" sampai jam 12.00 malam.
Setelah beres-beres ransel dan nge-charge semua gadget plus kamera-kamera, aku pengen langsung tidur aja. Seharian perjalanan jauh, rasanya badan rontok banget. Habis bersih-bersih, tidur langsung dengan outfit lengkap untuk naik ke Ijen. Jadi begitu nanti alarm bunyi jam 12.00 nggak grabak-grubuk panik lagi, udah langsung cuci muka-sikat gigi and berangkaatt!!
Kaget dengan bunyi alarm jam 12.00, rasanya tidur baru sebentar banget. Cuma exciting luar biasa, karena ini pengalaman pertamaku naik gunung. Walopun bukan ala anak gunung yang ransel-an dan budget backpacker-an.
Bener aja, lagi siap-siap, Mas Ipul udah ngetok-ngetok pintu kamar pertanda waktunya jalan ke Paltuding. Paltuding itu starting point untuk trekking ke gunung Ijen.
Sampai di Paltuding jam 01.00 dinihari, setelah beli tiket untuk ijin naik Ijen seharga Rp.7.500 per orang. Kita masih harus menunggu portal dibuka jam 02.15.
Cari-cari warung buat ngopi panas sambil duduk-duduk di pinggir api bakaran kayu rasanya enak banget buat ngangetin badan.
Jam 02.15 portal dibuka, ratusan orang mulai berbaris ngantri buat nyerahin tiket dan masuk perlahan. Kita bedua dipandu Mas Ipul, mantan penambang belerang selama 8 tahun di Ijen dan sudah sangat hafal dengan liku-liku trekking nya dan banyak kasih trik saat naik. Dari Paltuding berjalan kaki dengan jarak sekitar 3 km. Lintasan awal sejauh 1,5 km cukup berat karena menanjak. Sebagian besar jalur dengan kemiringan 25-35 derajat. Selain menanjak struktur tanahnya juga berpasir sehingga menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang.
Setelah beristirahat di Pos Bunder (pos yang unik karena memiliki bentuk lingkaran) jalur selanjutnya relatif agak landai. Selama 3kilo trekking, mungkin 4 kali aku harus melipir dulu buat ngatur nafas dan degup jantung yang makin kenceng. Ternyata latihan zumba dan beberapa kali yoga sangat-sangat ngebantu buat trekking kali ini. Karena butuh stamina yang kuat dan pastinya harus bisa ngatur ritme nafas.
Jam 04.20 sampai juga di puncak Gunung Ijen. Untuk ngeliat Blue Fire nya, harus turun lagi ke bawah kawah kurang lebih 20 menit turun. Dengan jalan setapak yang curam, bebatuan yang tajam dan bau belerang yang menusuk. Sangat disarankan memakai masker dengan perlindungan sampai ke mata juga. Karena pada saat angin berhembus kencang, bau belerang bukan hanya menusuk hidung, tapi sampai panas ke mata.
| Di dunia cuma ada 2 blue fire seperti ini. Islandia dan Kawah Ijen -Indonesia. |
| Penambang belerang di Kawah Ijen |
Angin makin kencang, kabut juga makin tebal dan bau belerang menusuk hidung. Sudah jam 06.10 dan kita akhirnya memutuskan angkat kaki dari kawah Ijen. Selama perjalanan turun ke pos Paltuding, Masya Allah pemandangan yang dilihat luar biasa cantiknya, bener-bener nggak bosen dan nggak mau turun. Sampai akhirnya kita bedua niat untuk balik lagi kesini lain waktu. Cuma untuk menikmati "framing" cantik yang dibuat Sang Pencipta.
| Jam 06.00 pagi di Gunung Ijen yang tertutup kabut. |
| Betah berlama-lama berdiri disini, walaupun dingin nya menusuk tulang. |
Bukan Everest bukan juga Fuji.Ini Gunung Raung di Indonesia.Dengan kabut tipis dan langit biru nya..
"Indonesia itu Indah"
|
Buatku turun gunung nggak se ngos-ngosan saat naik. Sepertinya betis dan kaki sudah terlatih karena biasa zumba dan nge-dance. Cuma harus hati-hati karena jalan yang ber pasir dan kabut yang masih pekat.
3 kilo turun rasanya cuma sebentar banget, paling berhenti sesekali karena pengen motret dan ngendurin betis yang mulai kenceng.
| Perjalanan turun dengan kabut yang masih pekat |
| Penambang belerang. Memanggul 60-70 kilo belerang di dalam keranjang nya |
| Entah ini bunga apa namanya, tapi perpaduan warna pink dengan langit biru nya kok cantik banget ya |
Sampai juga di posko Paltuding, Jam 07.35 dan baru terlihat posko ini disaat pagi seperti apa, pelataran parkir yang luas, entah puluhan mobil dan ratusan motor yang saat itu berparkir. Sampah berserakan dimana-mana, walaupun tersedia tong-tong sampah, ternyata banyak orang yang enggak peduli sama gunung nya, sama alam nya. Bawa makanan ringan, bawa minuman plastik tapi enak banget nyampah sembarangan.
Mas Riko, driver kita yang setia nganterin, masih sembab matanya karena tidur di mobil selagi kita naik keatas. Setelah cuci muka, kita jalan lagi ninggalin kawasan Ijen-Bondowoso. Kali ini...rute kita Taman Nasional Baluran!!
Semoga bisa balik lagi ke Ijen suatu saat nanti. Entah bulan Juli atau Agustus. Katanya sih, saat musim kemarau, cuaca dan hawa di Ijen akan semakin dingin. Ihiyyy..siap-siap lagi pake jaket tebel pluss obat alergi dingin.
Semoga gunung ku tetap cantik dan indah. Makin banyak orang yang sadar untuk ngerawat dan ngejaga. Bukan hanya sebagai penikmat tanpa mau peduli.
"Indonesia itu Indah"
No comments:
Post a Comment